Ancaman Vs Harapan

Ancaman Vs Harapan

Apa yg mendorong kita berusaha lebih keras,lebih baik & lebih cerdas ???

A. Ancaman
B. Harapan

Sampai saat ini belum ada survey atau setidaknya saya belum pernah mendengar atau membaca survey tentang hal itu.

Tapi dari pengalaman pribadi dan pembelajaran dari beberapa sudut pandang teori, sepertinya ancaman cenderung merubah diri atau sebuah organisasi lebih waspada dan berupaya lebih.

Sebagai contoh Orang yang di kejar anjing,tanpa disadari bisa lebih cepat berlari menghindari ancaman gigitan anjing. Kalau istilah klasiknya teori the power of kepepet.

Atau teori pemikiran berbasis resiko yang di adopsi oleh sistem manajemen saat ini. Bahkan iso sendiri saat ini sudah mengeluarkan standar sistem manajemen RISK MANAGEMENT (ISO 35001).

Tapi itu sebuah keniscayaan bukan suatu hal yang mutlak, banyak juga orang orang sukses terdorong oleh harapan. Harapan yang akhirnya menjadikan energi untuk berbuat dan berupaya lebih keras lagi.

Pada akhirnya ancaman dan harapan bisa menjadi rel kiri dan kanan agar kehidupan senantiasa pada jalur nya (On The Track).

Di era digitalisasi saat ini dimana teknologi informasi hadir hampir dalam semua aspek kehidupan, terdapat ancaman dan juga harapan.
Banyak perusahaan gugur atau mati suri karena tidak menyadari akan adanya ancaman dan tidak mampu melihat peluang dan membuka harapan untuk bisa menjadikan performa lebih baik dan mempertahankan bisnis agar tetap bertahan.

Pun begitu untuk generasi muda bangsa ini,saat ini ada 65 juta generasi milenial, yang jika tidak mampu menyadari ancaman dan melihat peluang maka akan tergerus roda zaman dan pada akhirnya tidak mampu bersaing di masa depan.

Tahun 2030 diperkirakan indonesia akan memiliki 113 juta tenaga kerja di usia produktif (Bonus Demografi).Dan hanya 10% atau 11,3 juta yang memiliki keahlian khusus. Jika tidak ada upaya lebih untuk menanggulangi hal ini maka 90% tenaga kerja kita akan kesulitan mencari atau menemukan pekerjaan.

Saat ini para ahli menyebut dunia memasuki era Vuca (Volatile, Uncertain, Complex, Ambigu) bahasa indonesia nya (Rapuh, Tidak Pasti, Rumit, Rancu).

Setidak nya ada 6 soft skill yang harus di miliki untuk bisa bersaing di era VUCA.

1. Creative Thinking Skill
2. Critical Thinking Skill
3. Colaboration Skill
4. Communication Skill
5. Negotiation Skill
6. Fleksibilitas Kognitif



Author: Yusuf Ricky Carell Saptenno
Yusuf Ricky Carell Saat ini menjabat sebagai Executive Director Ios Consultant & Chief Technology Officer DOIT (Digital Optima Integra) IT Consultant. Tersertifikasi sebagai Certified Trainer dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi Berpengalaman selama 15 Tahun di Dunia IT.Tidak lulus di beberapa Universitas saat kuliah akhirnya memutuskan untuk memperdalam ilmu Digital Business di Columbia Business School serta Digital Transformation di Executive Education di Haas Business School UC Berkeley. Saat ini juga aktif sebagai Trainer di berbagai instansi/institusi serta mendirikan Young Enterpreneur Partner Academy komunitas wirausahawan Muda.

Tinggalkan Balasan